Barapan Kerbau, Sumbawa

November 5, 2011 | Filed Under Human Interest, Sport 

13669 172373124033 155191554033 2663970 7972073 n Barapan Kerbau, Sumbawa

Incoming search terms:

gambar kerbau sumbawa, kerbau, kerbau sumbawa, sumbawa barat, photographer sumbawa, sumbawa, adu kerbau di sumbawa, jamu memperkuat tenaga

Comments

One Response to “Barapan Kerbau, Sumbawa”

  1. Joniar Satriyo on November 5th, 2011 14:24

    Inilah Pulau Sumbawa, di Nusa Tenggara Barat. Pulau yang menjadi surga buat kerbau. Masyarakat Sumbawa, khususnya di Sumbawa Besar, amat telaten memperlakukan hewan ternaknya. Kerbau-kerbau ini, dilepas di hamparan hijau, hutan dan padang rumput yang luas.

    Dan bagi kerbau-kerbau khusus, yang dinilai memiliki kekuatan dan kemampuan berlari cepat, bahkan diberikan tempat khusus. Ia dikandangkan dengan beragam fasilitas, bak di surga buat seekor kerbau. Ada mandi air hangat, ada pijatan. Bahkan minumannya dicampur madu, telur, dan vitamin lain.

    Kerbau-kerbau khusus ini diharapkan pemiliknya akan mampu menaikkan gengsinya. Ia akan dilombakan di Sumbawa. Barapan kerbau, namanya. Hari masih gelap, saat satu per satu truk yang membawa kerbau memasuki Desa Meronge. Di desa ini akan diselenggarakan barapan kerbau, atau balapan kerbau.

    Di sebuah areal persawahan yang akan dijadikan lokasi lomba, kerbau-kerbau diturunkan dari truk. Sementara puluhan ekor lainnya, terlihat dituntun pemiliknya, yang datang berjalan kaki. Hasrat besar mengikuti lomba, amat terasa di Desa Meronge. Barapan kerbau adalah tradisi mereka. Adalah juga kebanggan mereka. Matahari mulai terlihat.

    Masyarakat Desa Meronge hari itu menumpahkan perhatiannya pada barapan kerbau, yang biasanya dilakukan dalam pesta rakyat sebelum dan sesudah panen. Kerbau-kerbau jagoan pemiliknya dibawa berteduh di bawah pohon rindang, menunggu giliran. Sementara pemiliknya, mendaftar ulang kerbaunya.

    Kini saatnya pemilik dan joki kerbau mulai menyiapkan hewan kesayangannya. Kerbau andalannya ini diberi minuman yang diyakini dapat memperkuat tenaga kerbau dalam berlari. Biasanya, berupa jamu, ditambah madu, telur dan minuman energi. Bahkan beberapa kerbau diberikan minuman bersoda.

    Usai pemberian minum, tak lantas kerbau siap berlomba. Ia masih harus melewati ritual khusus. Ia harus didoakan, sambil dipasangkan sebatang kayu, atau noga. Persaingan di ajang lomba tak sekedar kekuatan tubuh kerbau. Pentas ini juga kental dengan persaingan ilmu sang dukun yang dikenal dengan sebutan sanro.

    Sanro juga yang mengisi kekuatan ini pada sang joki, yang nanti akan mengendalikan kerbau. Barapan kerbaupun dimulai. Joki diberi kesempatan menggiring kerbau dari garis akhir berupa tonggak kayu, atau tiang saka sebutannya, menuju garis awal. Ini harus dilakukan karena naluri kerbau berlari hanya di lintasan yang pernah dilaluinya.

    Dalam barapan kerbau, kekuatan dan kecepatan kerbau berlari, bukan yang utama. Joki harus pandai mengarahkan tunggangannya untuk menabrak tiang saka, sebagai tanda akhir lomba. Sebuah tiang yang disebut tiang saka. Kesulitan joki ditambah lagi dengan adanya sanro saka yang menjaga tiang saka. Sanro ini dengan kekuatan ilmunya, berupaya menjaga tiang saka dari tabrakan kerbau. Bahkan tak jarang, si kerbau justru menjauhi tiang.

    Di sinilah peran sanro yang disewa pemilik kerbau. Ia terus merapalkan doanya, untuk mengadu kekuatan dengan sanro saka. Dalam adu kekuatan dua sanro ini, kadang hal-hal yang tidak terbayangkan, terjadi. Kecepatan kerbau dipadu dengan kelihaian joki serta kekuatan ilmu sanro membuat barapan kerbau ini semakin diminati. Terik matahari, tak menyurutkan minat masyarakat untuk menjadi saksi barapan kerbau.

    Matahari semakin tinggi, dan tiba di puncaknya. Suhu mencapai 39 derajat celcius. Suasana di tengah lomba makin menghangat. Penonton, tak selangkahpun mundur. Satu demi satu kerbau dan jokinya, berguguran. Dua kali kesempatan yang diberikan panitia untuk menabrak tiang saka, tak juga berhasil. Bahkan ada yang menjauh dari tiang saka. Ada pula joki yang terjatuh saat kerbau berlari.

    Tak heran, beberapa joki terlihat kecewa dengan hasil lomba. Sang kerbaupun kadang menjadi korban. Tubuhnya tak luput dari hujaman tongkat joki. Kekecewaan joki, pemilik dan pendukungnya ini kerap terhibur dengan ulah beberapa joki lainnya, yang secara tiba-tiba melantunkan puisi yang di Sumbawa kerap disebut dengan lawas.

    Tradisi ini disebut mengumang, yang juga merupakan cara masyarakat Sumbawa mencari jodoh. Dulu-dulunya, joki yang umumnya muda dan lajang, mencuri perhatian para gadis yang ikut menonton dengan mengumang, bahkan sambil menari usai lomba.

    Peserta yang bertumbangan mulai berkemas untuk kembali ke desanya. Kepulangan mereka juga diikuti oleh pendukungnya. Mereka terpaksa berkemas, karena lokasi yang jauh, ada yang ratusan kilometer dari Meronge. Surutnya penonton, tidak membuat medan lomba sepi. Justru di sore hari, persaingan semakin ketat. Hanya kerbau dan joki yang tercepat dan mampu menabrak tiang yang berlomba.

    Partai puncakpun tiba. ini yang dinanti, untuk menentukan siapa sang juara. 6 pasang kerbau dan jokinya bersiap memperebutkan piala dan seekor anak kerbau. Dan tak kalah, mereka mengejar gengsi. Beragam cara ditempuh. Sang nganro bekerja keras. Demikian pula dengan joki, yang terpaksa jatuh bangun.

    Kecepatan kerbau pun semakin terlihat dalam partai penentuan ini. Kerbau milik Haji Fatah mampu berlari dalam 11 detik di lintasan sepanjang 100 meter ini. Ada yang mampu 10 detik, sayangnya tak mengenai tiang saka. Sehingga kerbau Haji Fatahlah yang memenangkan lomba ini.

    Bangga menjadi juara, tak hanya milik Haji Fatah, joki, dan kerbaunya. Ia juga milik para pendukungnya. Dan sang kerbau pasti akan diperlakukan lebih istimewa lagi. Kemenangan yang berbuah kebanggaan seperti yang diperoleh Haji Fatah dan Masidi, adalah idaman seluruh warga Sumbawa. Untuk memperolehnya, dibutuhkan keuletan dan dukungan dana. Pemilik kerbau dan jokinya, harus jeli memilih kerbau yang disiapkan untuk barapan.

    Haji Fatah biasanya melihat tanda-tanda khusus pada kerbau, seperti pusar, kulit dan lain-lain. Kekuatan dan keberuntungan dapat terlihat pada tanda-tanda ini. Tanpa tanda-tanda yang diyakini ini, sulit buat kerbau utnuk bisa memenangkan lomba. Pemilik kerbaupun harus telaten merawat dan melatih kerbau pilihannya. Haji Fatah dan Masidi, yang telah tahunan merawat kerbau khusus barapan, harus mengeluarkan biaya yang tidak sedikit.

    Kerbau yang terpilih biasanya dipelihara oleh seseorang yang dibayar pemiliknya. Kerbau ini dipelihara khusus dengan berbagai fasilitas perawatan. Memandikannya dengan air hangat, contohnya. Air hangat inipun, dicampur dengan ramuan tradisional, seperti jahe, berbagai kayu-kayuan dan dedaunan, untuk melenturkan otot kerbau.

    Minuman buat kerbau ini juga khusus. Dibuat dari jamu-jamuan, ditambah madu, telur, dan sejenis rumput yang hanya tumbuh di Sumbawa. Benar-benar khusus. Air hangat bercampur ramuan yang telah siap, disiramkan ke tubuh kerbau milik Haji Fatah, yang diberi nama lintasan berita. Pijatanpun diberikan akan agar otot kerbau lebih lentur dan kuat berlari.

    Usai itu si kerbaupun disuguhi minuman istimewa yang telah disiapkan. Ramuan ini boleh dibilang rahasia, hanya milik empunya kerbau. Mandi air hangat dan minum ramuan khusus ini biasanya dilakukan sepekan sekali. Berlatih di sawah, adalah menu rutin buat kerbau seperti lintasan berita. Interaksi antara kerbau, joki dan pemilik kerbau di saat latihan menjadi kunci penting untuk meraih kemenangan dalam lomba.

    Menentukan kerbau pilihan, merawat, dan melatihnya, itulah yang harus dilakukan pemilik kerbau dan jokinya, dari hari ke hari. Dan buahnya, akan dipetik nanti di saat lomba. Lomba barapan kerbau yang memanjakan kerbau. Yang menjadikan Sumbawa, surga bagi kerbau.

Leave a Reply